Selasa, 19 Februari 2019

Kurangi 'Nongkrong' di Cafe, Milenial Bisa Cicil Apartemen Ini


Di era modern dengan tuntutan bersosialisasi yang tinggi, gaya hidup hedonisme seperti minum kopi di kafe atau tempattempat pertemuan, berbelanja, sudah menjadi sebagian gaya hidup seseorang, termasuk kaum milenial. Kecenderungan kaum milenial untuk merasakan pengalaman hidup yang berbeda (life experiences) membuat mereka mengutamakan traveling dan sosialisasi sebagai tujuan hidup.

Survei terbaru Ameritrade yang dilansir dari CNBC Make It menyebutkan, gaya hidup milenial seperti travelling dan liburan kerap jadi prioritas. Dilanjut dengan tren makan malam di luar atau nongkrong-nongkrong sambil ngopi di peringkat berikutnya untuk pengeluaran tertinggi.

Menurut Direktur Utama PT Setiawan Dwi Tunggal, Peony Tang, gaya hidup tersebut tidaklah salah, karena bertujuan untuk bersosialisasi dan mencari inspirasi, asalkan kaum milineal bisa bijak dalam mengelola keuangan dan tidak terjebak pada gaya hidup yang boros.

"Pada dasarnya, kaum milenials cenderung untuk menekankan pada pengalaman hidup, dan tidak terpikir untuk melakukan investasi untuk jangka panjang," ujar dia dalam siaran persnya.

Peony mencontohkan, untuk secangkir kopi di kafe, atau berbelanja pakaian, kaum milineal harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 50.000 hingga Rp 150.000. Kalau sebulan minimal Rp 1,5 juta. Padahal, dengan pengeluaran demikian, selama setahun, kaum milenial sudah mampu membayar DP dan mencicil apartemen seharga Rp 325 juta.

Selain gaya hidup, yang menjadi kendala kaum milenial untuk memiliki properti, menurut Peony juga akibat terus merangkak naiknya harga properti. Bahkan sebuah studi menyebutkan bahwa dalam 10 tahun mendatang, harga hunian tak lagi terjangkau.

"Properti memang aset yang tak pernah turun, apalagi jika fasilitas dan lokasinya bagus, yang ada harga akan terus naik dan kian tak terjangkau di kantong," kata dia.

Untuk mengatasi hal tersebut, Peony menyebutkan, pihaknya memiliki program yang bisa meringankan milenial dalam memiliki hunian apartemen. Salah satunya adalah dengan program 'Nabung DP' untuk The Parc Apartemen.

Menurut Associate Director SouthCity, Stevie Faverius Jaya, melalui program ini, milenial hanya perlu mencicil DP 20 persen sebesar sekitar Rp 3,3 jutaan hingga 24 kali. Setelah itu dilanjutkan dengan mencicil KPA sebesar Rp 3 juta per bulan, yang artinya dalam satu hari, para calon konsumen hanya perlu menyisakan Rp 99.000 per hari.

"Jika dibandingkan dengan 'ngopi' di caf, belum lagi makan di mall dan aktivitas hiburan lainnya, mereka (milenial) bisa menghabiskan setidaknya Rp 100.000 - Rp 150.000 per hari. Jika gaya hidup tersebut diubah menjadi menabung, maka mereka bisa mendapatkan satu unit apartemen dengan fasilitas dan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan milenial," kata dia.

Menurut kajian Colliers, salah satu pilihan hunian bagi kaum milenials adalah apartemen. Hal ini karena apartemen dianggap lebih praktis dengan segala fasilitasnya mulai dari kafe hingga tempat pertemuan (meeting). Faktor lain yang mendorong minat kaum milenial terhadap apartemen adalah sulitnya mendapatkan rumah tapak dengan harga terjangkau di ibu kota. Tren tersebut diperkirakan terus bergeser ke daerah penyangga yang tidak terlalu jauh dari ibu kota.

"Apartemen menjadi pilihan karena kalangan muda saat ini menginginkan tempat tinggal yang dekat dengan aktivitas bisnis, apalagi bila di sekitar apartemen terdapat ruang berbagi kantor (coworking space) yang bisa disewa secara harian atau bulanan," ujar Peony.

Kepraktisan dan fasilitas menjadi salah satu pertimbangan. Menurut Peony, milenials, sangat terampil dengan teknologi dan cenderung memilih yang serba praktis. Apartemen merupakan solusi bagi gaya hidup yang sudah melekat pada kaum milenial.

The Parc, merupakan hunian vertikal pertama seluas 1,5 hektar dalam 5,5 hektar kawasan South City. Apartemen yang kembangkan oleh PT Setiawan Dwi Tunggal ini dihadirkan sebagai hunian coliving pertama di Indonesia.

"Hal terpenting yang ditawarkan kepada pelanggan kami adalah living experience dengan area yang luas dan asri, serta didukung oleh kawasan superblok berfasilitas lengkap. Dan semua ini kami tawarkan dengan harga yang terjangkau bagi generasi milenial," kata Peony.

Sejak mulai dipasarkan Juni 2018 lalu, The Parc sudah terjual sekitar 30-40 persen dari total 392 unit di tower pertama. "Kami targetkan penjualan hingga 70 persen di tahun ini dan selanjutnya kami akan memasarkan tower kedua,"

SouthCity sebagai pengembang optimis, kehadiran proyek apartemen dengan investasi sekitar Rp 900 miliar ini dapat memberi angin segar bagi para investor maupun end user, terutama para generasi milenial. The Parc Apartemen terdiri dari 3 tower setinggi 13 lantai yang direncanakan sebanyak 1.701 unit. Tower pertama yang direncanakan mulai dibangun pada akhir tahun ini menyediakan 3 tipe, yakni Studio (22,55 m2), 1 Bedroom (30,06-36,66 m2) dan 2 Bedroom (45,10 m2). Saat ini, The Parc dibandrol dengan harga promo dan terjangkau mulai dari Rp325 juta sampai dengan Rp 700 jutaan per unit.

0 komentar:

Posting Komentar