Selasa, 27 Agustus 2019

Cara Mengobati Bagian Tubuh yang Mati Rasa


Mati rasa atau kebas adalah sebuah kondisi dimana bagian tubuh tertentu tidak bisa merasakan rangsangan yang diterima. Bagian tubuh yang mati rasa tidak akan bisa menerima berbagai rangsangan sentuhan seperti panas, dingin, getaran pada kulit. Selain itu mereka juga tidak akan sadar posisi tubuh yang mengalami mati rasa sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh menjadi terganggu. Kondisi ini adalah salah satu dari gejala gangguan saraf. Mati rasa juga terkadang disertai dengan rasa terbakar, rasa seperti tertusuk jarum dan juga kesemutan. Bagian tubuh yang paling sering mengalami mati rasa adalah di bagian tangan ataupun kaki, itu pun bisa terjadi secara simetris (di kedua bagian tubuh/ kanan dan kiri) ataupun hanya di salah satu bagian tubuh saja. 

Pada kondisi tubuh normal, rangsangan pada bagian tubuh seperti di kulit akan dialirkan ke otak dan juga saraf tulang belakang. Namun orang-orang yang mengalami mati rasa tidak bisa merasakan rangsangan tersebut karena aliran yang menuju otak mengalami gangguan. Mati rasa bisa terjadi secara tiba-tiba dan juga dapat menyebar dengan cepat. Bagian tubuh yang mengalami mati rasa akan mengalami lemah otot. Mati rasa tidak hanya terjadi di tangan atau kaki saja, namun juga bisa menyerang wajah.

Penyebab dari mati rasa pun bisa bermacam-macam, setiap orang mengalami mati rasa dengan penyebab yang berbeda. Untuk itulah sangat penting untuk mengenali kondisi bila anda mengalami mati rasa. Ketika ada bagian tubuh yang mati rasa, sebenarnya hal tersebut merupakan gejala dari gangguan saraf. Oleh sebab itulah anda pun harus tahu bagaimana caranya mengatasi bila terjadi mati rasa pada salah satu bagian tubuh anda. Pada artikel ini akan dijelaskan bagaimana cara mengatasinya.

  • Bergeraklah sesering mungkin, dengan begitu rasa kesemutan dan mati rasa akan menghilang secara perlahan. Anda harus menggerakkan bagian tubuh yang mati rasa, bukan bagian tubuh yang sehat. Dengan bergerak anda akan merangsang sirkulasi darah pada bagian tubuh yang mati rasa. Kalau perlu anda bisa berjalan-jalan sejenak. Untuk mencegah agar kesemutan tidak muncul lagi, anda harus latihan fisik yang ringan secara teratur, cukup berjalan-jalan selama beberapa menit saja setiap harinya. Tapi ingat, jangan lupa untuk melakukan peregangan sebelum melakukan kegiatan olahraga apapun untuk mencegah terjadinya cedera.
  • Mati rasa paling sering terjadi ketika anda berada pada posisi yang sama selama beberapa saat dan tidak berubah-ubah. Maka untuk menghilangkan mati rasa tersebut anda bisa mengubah posisi anda. Dengan mengubah posisi akan melepaskan saraf tubuh yang terjepit. Ya, jadi saraf yang terjepit juga bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya mati rasa pada bagian tubuh tertentu.
  • Jangan menggunakan pakaian yang terlalu ketat, karena hal tersebut akan menghambat aliran darah ke seluruh tubuh. Ketika aliran darah terganggu, tubuh akan kekurangan oksigen dan menyebabkan tubuh tidak bisa berfungsi dengan baik, salah satunya mengalami mati rasa karena adanya impuls yang terganggu sehingga tidak bisa disalurkan ke otak.
  • Memijat bagian tubuh yang mati rasa dengan lembut. Hal tersebut akan membantu meningkatkan sirkulasi darah ke bagian tubuh tersebut dengan lebih cepat.
  • Anda juga bisa menghangatkan bagian tubuh yang mati rasa dengan menutupinya menggunakan selimut atau pakaian yang tebal. Pemaparan panas tersebut akan meningkatkan sirkulasi darah.
  • Hindari menggunakan sepatu yang terlalu kecil atau sepatu yang menggunakan hak. Sepatu yang tidak nyaman akan membuat kaki terjepit dan akhirnya sirkulasi darah pada kaki menjadi terhambat. 

Kalau frekuensi mati rasa di bagian tubuh tertentu semakin meningkat, tidak baik apabila anda mendiamkannya saja dan mengobati seadanya saja. Anda harus memeriksakan diri anda pada dokter agar bisa mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. Mendapatkan diagnosis yang cepat akan lebih baik sebelum semuanya terlambat. Karena dengan begitu anda bisa melakukan antisipasi. Jangan sampai anda baru memeriksakan diri ke dokter ketika semuanya sudah terlambat. Misalnya saja saat anda mengalami stroke, tentu hal tersebut sudah terlambat. Seharusnya anda memeriksakan diri terlebih dahulu sebelum anda mengalami stroke.

0 komentar:

Posting Komentar